Dari Kuli Bangunan ke Panggung Nasional, Erwin Prasetio Ukir Prestasi Lewat Jurnalistik

Natuna, Resonansi.co — Ada masa ketika memasuki kompleks Lanud Raden Sadjad di Natuna membuat Erwin Prasetio merasa tegang.

Sekitar 10 tahun lalu, ia bukan wartawan. Bukan pula seseorang yang datang membawa kamera dan buku catatan untuk meliput kegiatan TNI Angkatan Udara.

Erwin kala itu hanyalah seorang buruh bangunan. Pekerjaannya mengantarkan dia ke kompleks perumahan TNI AU di Natuna untuk merenovasi mess. Setiap hendak memasuki kawasan tersebut, ia harus melewati pos penjagaan.

Kelengkapan kerja diperiksa. Kartu identitas, KTP hingga kendaraan harus dipastikan sesuai. Jika ada yang kurang, bukan tidak mungkin ia harus menerima hukuman push-up dari petugas penjaga.

Bagi Erwin yang kala itu masih menjadi pekerja bangunan, sosok tamtama TNI AU di pos penjagaan cukup membuatnya gentar.

Namun, siapa sangka perjalanan waktu kemudian membawa lelaki asal Kediri, Jawa Timur, itu ke tempat yang sama sekali berbeda.

Bukan lagi berdiri di luar pagar sebagai pekerja bangunan. Bukan lagi menundukkan kepala ketika melewati pos penjagaan.

Kini, Erwin justru berdiri di hadapan pimpinan tertinggi TNI Angkatan Udara, menerima penghargaan sebagai Juara 1 Kasau Awards 2026 kategori Isu Humanis.

Lebih dari itu, ia bahkan berkesempatan berfoto bersama jenderal bintang empat yang dahulu mungkin tidak pernah terbayangkan akan ditemuinya.

Perjalanan itu terasa seperti sebuah lingkaran yang kembali pada titik awal, tetapi dengan cerita yang sama sekali berbeda.

Erwin Prasetio, Redaktur Pelaksana SinarPerbatasan.com, kembali mencatatkan prestasi di tingkat nasional.

Melalui karya jurnalistik berjudul “Sayap Pengabdian TNI AU di Ujung Negeri, Menjaga Langit Menyalakan Asa”, ia berhasil meraih Juara 1 kategori Isu Humanis dalam Kasau Awards 2026.

Karya tersebut menjadi yang terbaik setelah bersaing dengan 346 karya jurnalistik wartawan dari berbagai daerah di Indonesia dalam ajang yang digelar TNI Angkatan Udara.

Trofi dan piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono dalam acara Kasau Awards 2026 di GSG Suharnoko Harbani, Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026).

Bagi Erwin, penghargaan itu bukan hanya sebatas sebuah trofi. Sebab, setahun sebelumnya, ia juga berdiri di panggung yang sama.

Pada Kasau Awards 2025, Erwin berhasil meraih Juara 2 kategori Isu Humanis melalui karya berjudul “Mengenang Jasa TNI AU Menyelamatkan Nyawa Warga di Daerah Perbatasan.”

Kala itu, karyanya bersaing dengan 311 karya jurnalistik wartawan dari seluruh Indonesia. Dua tahun mengikuti Kasau Awards, dua kali pula namanya masuk dalam daftar pemenang.

“Alhamdulillah, dua kali mengikuti Kasau Awards, dua kali pula saya masuk nominasi. Tahun lalu saya meraih Juara 2, dan Alhamdulillah tahun ini bisa meraih Juara 1,” ujar Erwin penuh syukur.

Di balik dua penghargaan tersebut, ada cerita panjang yang membuat pencapaian Erwin terasa jauh lebih personal.

Ia masih mengingat masa ketika dirinya bekerja sebagai buruh bangunan di kompleks perumahan TNI AU Natuna.

Saat itu, mungkin tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari nanti ia akan kembali ke lingkungan yang sama, bukan sebagai pekerja bangunan, melainkan sebagai seorang wartawan yang menerima penghargaan dari pimpinan tertinggi TNI AU.

Setahun setelah meraih Juara 2, Erwin kembali diundang menghadiri Kasau Awards.

Kali ini, ia datang dengan status yang berbeda. Ada piagam penghargaan yang dibawa pulang. Ada trofi yang menjadi bukti kerja keras. Dan ada sebuah momen yang mungkin akan selalu ia ingat, yaitu berdiri dan berfoto bersama Kasau.

“Kalau mengingat masa itu, saya sendiri merasa terharu. Dulu saya datang ke kompleks AURI sebagai pekerja bangunan dan merasa takut saat melewati penjagaan. Sekarang, saya justru bisa diundang ke acara Kasau Awards dan berfoto bersama pimpinan tertinggi TNI AU,” tuturnya.

Sebuah perubahan kecil dalam waktu, tetapi terasa begitu besar dalam perjalanan hidup. Dulu, ia takut kepada seorang tamtama di pintu masuk. Kini, ia justru diterima dan dihargai oleh pimpinan tertinggi institusi tersebut.

Bagi Erwin, pengalaman itu menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Perjalanan Erwin di dunia jurnalistik sendiri baru dimulainya pada 2017. Ia tidak datang dari bangku pendidikan jurnalistik. Ia mengaku hanya lulusan SMA sederajat dan belajar menulis secara otodidak.

Tidak ada ruang kelas jurnalistik yang secara khusus mengajarinya bagaimana membuat berita. Sebaliknya, ia belajar dengan cara sederhana, yaitu membaca.

Setiap hari, Erwin membiasakan diri membaca berita dari media-media nasional. Dari sana, ia mencoba memahami bagaimana sebuah berita disusun, bagaimana sebuah peristiwa dipilih sudut pandangnya, hingga bagaimana wartawan menggunakan bahasa untuk menyampaikan fakta kepada pembaca.

Ia belajar dari apa yang dibacanya, kemudian mencoba menulis dan terus memperbaiki diri.

“Dulu saya belajar dari media-media besar dan ternama. Setiap hari saya membiasakan diri membaca berita dari media nasional agar bisa memahami tata cara penulisan dan gaya bahasanya,” katanya.

Ia pun mengaku memiliki harapan sederhana.

“Saya berharap bisa mengikuti jejak wartawan profesional yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dari saya,” lanjutnya.

Dari proses belajar secara mandiri itulah, satu demi satu pencapaian mulai datang. Kasau Awards bukan satu-satunya panggung nasional yang berhasil ditaklukkan Erwin.

Sejauh ini, ia telah mencatat lima pencapaian dalam ajang karya jurnalistik tingkat nasional, yakni Juara 2 Kasau Awards 2025, Juara 1 Lomba Karya Jurnalistik SKK Migas-KKKS 2025, Juara 1 Kasau Awards 2026, serta dua kali masuk nominasi lomba karya jurnalistik tingkat nasional yang digelar Kementerian Sosial dan PT Elnusa Petrofin.

Capaian itu sekaligus membawa nama SinarPerbatasan.com bersaing dengan media nasional maupun media daerah lainnya.

Namun, bagi Erwin, penghargaan tersebut bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru sebaliknya.

“Capaian ini membuat saya semakin semangat untuk berkarya dan lebih percaya diri. Sebelumnya, saya tidak pernah mengikuti lomba tingkat nasional karena sempat berpikir mustahil bisa bersaing dengan wartawan senior dari media-media besar,” ungkapnya.

Pengalaman itu kemudian melahirkan keyakinan lain dalam dirinya: bahwa wartawan daerah juga memiliki ruang yang sama untuk berprestasi.

Menurut Erwin, yang dibutuhkan adalah kemauan untuk terus belajar, tekun dan tidak takut mencoba.

“Setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Asalkan kita mau belajar, tekun dan terus mencoba, insyaallah tidak ada yang tidak mungkin, meskipun kita berasal dari media daerah,” pesannya.

Prestasi Erwin juga tidak berdiri sendiri. Di balik keberhasilannya, ada nama Lanud Raden Sadjad Natuna yang turut mendapat penghargaan dari Kasau sebagai satuan TNI AU yang dinilai berhasil menjalin kemitraan dengan insan media. Penghargaan tersebut diraih dua tahun berturut-turut.

Pada Kasau Awards 2025, dua wartawan binaan Lanud Raden Sadjad Natuna berhasil naik podium.

Alfiana dari Mandalapos.co.id meraih Juara 1 kategori Isu Humanis, sedangkan Erwin Prasetio dari SinarPerbatasan.com meraih Juara 2 pada kategori yang sama.

Tradisi itu berlanjut pada Kasau Awards 2026. Dua wartawan binaan Lanud Raden Sadjad Natuna kembali berhasil meraih juara. Erwin Prasetio meraih Juara 1 kategori Isu Humanis, sementara Afrizal dari Kutipan.co.id meraih Juara 2 kategori Foto Jurnalistik.

Bagi Erwin, pencapaian tersebut bukan hanya tentang dirinya. Ada nama Natuna. Ada nama media daerah. Dan ada pesan bahwa karya yang lahir dari daerah pun dapat menemukan tempat di panggung nasional.

Kini, jika Erwin kembali mengingat masa lalu, mungkin ada satu hal yang berubah. Dulu, ia memasuki kompleks TNI AU sebagai buruh bangunan dengan perasaan takut dan harus melewati pemeriksaan di pos penjagaan.

Hari ini, ia datang sebagai seorang wartawan yang membawa pulang trofi Juara 1 nasional.

Jarak antara dua keadaan itu terbentang hampir satu dekade. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat.

Tetapi dari perjalanan itu, Erwin belajar bahwa hidup kadang membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.

Dari pekerjaan kasar di sebuah kompleks TNI AU di Natuna, ia kemudian menemukan jalan menjadi wartawan.

Dari belajar menulis secara otodidak, ia perlahan berani berkompetisi. Dari sempat merasa mustahil bersaing dengan wartawan senior media besar, ia akhirnya berdiri di podium tertinggi.

Dan dari seorang pekerja yang dahulu merasa gentar di pos penjagaan, kini ia bisa berdiri di hadapan jenderal bintang empat dan menerima penghargaan.

“Saya berharap capaian ini bisa menjadi motivasi, bukan hanya untuk saya, tetapi juga bagi teman-teman wartawan di daerah. Jangan merasa rendah diri karena berasal dari media daerah. Terus belajar dan jangan takut mencoba,” ujarnya.

Kisah Erwin pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah trofi. Ini adalah cerita tentang seseorang yang terus berjalan meski bermula dari keterbatasan, belajar meski tanpa pendidikan jurnalistik, dan mencoba meski pernah menganggap dirinya tidak mungkin bersaing.

Sebab, dari ujung negeri, sebuah karya bisa terbang jauh. Dan kali ini, karya itu membawa nama Natuna hingga ke panggung nasional. (Zaki Husairi)

Editor : Reza MF



Bagikan

Berita Terbaru