Polsek Keritang Turun ke Sawah, Kawal Ketahanan Pangan dari Hulu

KERITANG – Pagi di Parit Tuanbrack, Kelurahan Kotabaru Reteh, dibuka oleh suara katak yang bersahutan dan bau lumpur basah yang naik ke udara. Di antara petak sawah yang baru menghijau, tampak sesosok anggota polisi berjalan hati-hati di pematang. Ia bukan sedang mengejar pelaku, melainkan menelusuri barisan tanaman padi milik Pakde Teran.

Kedatangan Aipda Bayu dari Polsek Keritang adalah bagian dari komitmen yang tak lagi sekadar diucapkan di atas kertas. Atas arahan langsung Kapolsek Keritang AKP Yosi, personel Polsek turun ke lapangan untuk memantau perkembangan sektor pertanian. Program nasional swasembada dan ketahanan pangan diwujudkan dengan langkah sederhana: hadir di tengah petani.

Bayu berhenti di pematang, jongkok, dan meraba daun padi dengan ujung jari. Ia memperhatikan fase pertumbuhan, memastikan malai mulai terbentuk sempurna. Matanya kemudian mengikuti aliran air di parit kecil, memeriksa apakah pintu air terbuka cukup lebar agar sawah tetap terendam tanpa meluap.

“Kalau airnya macet, padi bisa stres. Kalau kebanyakan, akarnya busuk,” gumamnya pelan, seolah berbicara dengan tanaman itu sendiri. Ia juga meneliti permukaan daun, berjaga-jaga terhadap bercak atau gigitan hama yang bisa merampas hasil panen sebelum sempat dipetik.

Kapolsek Keritang AKP Yosi menjelaskan, pendampingan semacam ini adalah langkah nyata Polri dalam mengawal ketahanan pangan dari hulu. “Sesuai instruksi pimpinan, kami di tingkat Polsek akan terus mengawal dan memberikan motivasi kepada para petani. Kami ingin memastikan proses produksi pangan di wilayah Keritang, khususnya Kelurahan Kotabaru Reteh, berjalan tanpa hambatan,” ujarnya.

Bagi AKP Yosi, menjaga ketahanan pangan berarti menjaga kehidupan. Sinergi antara kepolisian, pemerintah setempat, dan masyarakat petani harus terus dirawat. Karena ketika sawah terawat, lumbung akan terisi, dan dapur rumah tangga pun tetap mengepul.

Di tengah panas yang mulai naik, Bayu duduk di pematang dan mengajak Pakde Teran berdialog. Ia mendengarkan cerita tentang musim tanam kali ini, tentang pupuk yang harganya naik, tentang air yang kadang datang terlambat, dan tentang harapan agar panen nanti bisa menutup biaya dan menyisakan sedikit untuk ditabung.

Pakde Teran, pengelola lahan, menatap sawahnya dengan mata yang lelah tapi berbinar. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian Polsek Keritang. “Kami biasanya kerja sendiri di sawah. Sekarang ada yang datang, nanya kabar padi, nanya kendala kami. Rasanya lebih semangat,” katanya.

Kehadiran polisi di tengah sawah ternyata membawa lebih dari sekadar pengawasan. Ia memberi rasa aman, memberi semangat, dan mengingatkan bahwa perjuangan petani tidak berjalan sendirian.

Dari patroli malam hingga duduk di pematang siang hari, Polsek Keritang menunjukkan wajah pengabdian yang berbeda. Bahwa menjaga negeri tidak melulu tentang menjaga jalan, tapi juga menjaga setangkai padi agar tumbuh sampai panen. Dan di Parit Tuanbrack, harapan itu kini sedang ditanam, dirawat, dan dijaga bersama. (*)

Editor : Reza MF
Tag : # Inhil



Bagikan

Berita Terbaru