Belajar Ketahanan Pangan dari Kandang Puyuh, Mahasiswa KKN FISIP Unri Turun Langsung ke Lapangan
PEKANBARU – Sebanyak 12 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) mendapatkan pengalaman berbeda saat mengunjungi DeKings Farm dan Kelompok Ternak Pemuda Trans Bersatu di Komplek Trans Jasa Industri, Jalan Cipta Karya, Pekanbaru.
Mahasiswa semester IV Program Studi Ilmu Komunikasi itu tidak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung memanen telur puyuh, berdiskusi dengan peternak, hingga mempelajari strategi ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Di tengah suasana kandang yang hangat, para mahasiswa tampak antusias memungut telur puyuh yang baru dihasilkan. Pengalaman tersebut menjadi momen berharga karena mereka dapat melihat secara langsung proses produksi telur dari peternakan.
"Ihh... telurnya masih hangat, kadang masih ada hangat badan si puyuh. Cangkangnya totol-totol, telurnya glowing," ujar salah seorang mahasiswi sambil tersenyum.
Kegiatan lapangan itu didampingi petugas Bidang Mutu, Wahidun, serta petugas Bidang Kemitraan dan Niaga, Rian Hidayat. Berbagai pertanyaan pun dilontarkan mahasiswa, mulai dari proses produksi hingga siklus bertelur burung puyuh.
Namun, kunjungan tersebut bukan sekadar mengenal peternakan. Tim KKN bertajuk "FISIP Berdampak Membangun Negeri" juga melakukan observasi mengenai penguatan ketahanan pangan serta peluang pengembangan usaha berbasis peternakan di tingkat masyarakat.
Ketua Kelompok KKN, M. Favian Abdullah, mengatakan pihaknya ingin mengetahui bagaimana peternak mampu mempertahankan usahanya di tengah tantangan pasar.
"Kondisi pasar dan penjualan bagaimana, Pak? Apakah langsung dilempar ke agen atau bagaimana?" tanyanya kepada pengelola peternakan.
Ketua Kelompok Ternak Pemuda Trans Bersatu, Raja Adil Siregar, menjelaskan bahwa pemasaran telur puyuh dilakukan secara langsung kepada konsumen dan warung-warung di sekitar lokasi sehingga kualitas produk tetap terjaga karena dijual dalam kondisi segar.
"Pasar kita langsung ke konsumen atau warung-warung sekitar. Harga juga bisa bersaing karena telur yang dijual masih fresh. Kami juga melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat sekitar dalam pemasarannya," jelas Raja.
Ia menambahkan, usaha budidaya puyuh tidak hanya menghasilkan telur. Burung puyuh yang telah melewati masa produktif masih memiliki nilai ekonomi sebagai bahan olahan daging, sedangkan kotorannya dimanfaatkan menjadi pupuk organik.
Pupuk tersebut kini digunakan untuk mendukung program ketahanan pangan rumah tangga yang dikelola ibu-ibu PKK melalui budidaya cabai dan berbagai jenis sayuran.
"Telurnya bisa dijual, puyuh afkir bisa dimanfaatkan sebagai pedaging, sementara kotorannya kami olah menjadi pupuk untuk tanaman program ibu-ibu PKK. Saat ini sudah diterapkan pada tanaman cabai dan sayuran, dan ke depan akan terus dikembangkan," ujarnya.
Selain itu, apabila terdapat pesanan telur olahan dalam jumlah besar, kelompok ternak juga memberdayakan ibu-ibu di lingkungan sekitar untuk mengolahnya sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Ketua RT setempat, Soleman, mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN yang dinilai mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat.
"Ini menjadi momentum yang sangat baik. Kami menyambut kehadiran adik-adik KKN untuk saling bertukar pikiran dan membangun kolaborasi dalam mengembangkan usaha peternakan dan pemberdayaan masyarakat," katanya.
Ia berharap pengalaman lapangan yang diperoleh mahasiswa dapat menjadi bekal dalam menyusun program kerja yang inovatif, adaptif, dan tepat sasaran selama menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman praktis di bidang peternakan, tetapi juga memahami pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menciptakan peluang ekonomi berbasis potensi lokal. Mila
Editor : Nurdin Tambunan
Berita Terkait
Berita Terbaru
Identitas Korban Jatuh dari Jembatan Rantau Berangin Terungkap, Tim Gabungan Masih Lakukan Pencarian
- Kampar
- 04 Agustus 2026 17:42 WIB
Tinjau Hasil Pembangunan TMMD ke-129, Tim Wasev Mabesad Evaluasi Sasaran Fisik
- Pelalawan
- 04 Agustus 2026 17:40 WIB
Diduga Bunuh Diri, Seorang Pria Terjun dari Jembatan Rantau Berangin
- Kampar
- 04 Agustus 2026 09:57 WIB
Wujudkan Program TMAB, Satgas TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR Rampungkan Pengecoran Fondasi Tower Air Bersih
- Pelalawan
- 04 Agustus 2026 09:23 WIB
Komisi I DPRD Karimun Dorong Percepatan SIMPATI DESA untuk Perkuat Layanan Adminduk di Kabupaten Karimun.
- Karimun
- 03 Agustus 2026 23:41 WIB
Indonesia Tertinggal 0-2 dari Vietnam dalam 15 Menit Pertama di Stadion Pakansari
- Olahraga
- 03 Agustus 2026 21:36 WIB
Ekonomi Batam Diproyeksikan Tumbuh hingga 7,4 Persen, Pemko Naikkan Target Pendapatan Daerah
- Batam
- 03 Agustus 2026 17:10 WIB
Amsakar: Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman bagi Anak untuk Tumbuh dan Berprestasi
- Batam
- 03 Agustus 2026 14:12 WIB
Pemprov Riau Gelar Operasi Pasar Murah di Kampar dan Pekanbaru, Berikut Jadwalnya
- Ekonomi
- 03 Agustus 2026 13:08 WIB
Pemkab Kuansing Tunggu Kepastian Pejabat Pusat untuk Buka Festival Pacu Jalur 2026
- Traveliner
- 03 Agustus 2026 13:00 WIB
TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR: Pembangunan MCK Masjid Al-Hijrah Capai 70 Persen
- Pelalawan
- 03 Agustus 2026 09:39 WIB
Leo/Daniel Juara Taipei Open 2026, Raih Gelar Kedua Musim Ini
- Olahraga
- 03 Agustus 2026 06:01 WIB
Dulux Raih Top Brand Award 2026, Perkuat Posisi sebagai Merek Cat Pilihan Masyarakat Indonesia
- Ekonomi
- 02 Agustus 2026 13:54 WIB
Di Balik Kesibukan Memimpin Batam, Amsakar Dapat Kejutan Hangat di Ulang Tahun ke-58
- Batam
- 02 Agustus 2026 11:15 WIB
Leo/Daniel Melaju ke Final Taipei Open 2026, Siap Tantang Ganda Malaysia
- Olahraga
- 02 Agustus 2026 10:34 WIB
Kemanunggalan TNI dan Rakyat, Pembangunan RTLH Milik Zaini dalam TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR Terus Dikebut
- Pelalawan
- 02 Agustus 2026 10:29 WIB

