Dari Lantai Samudra, Natuna Hidupkan Kembali Warisan Budaya Lewat Karnaval

NATUNA, resonansi.co – Pemerintah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, kembali menjadikan budaya sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah. Melalui Karnaval Budaya bertema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra”, pemerintah daerah ingin membawa kekayaan budaya Natuna lebih dekat kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Karnaval tersebut dijadwalkan berlangsung Minggu (11/10/2026), di Alun-alun Pantai Piwang, Ranai. Namun, kegiatan ini bukan sekedar parade kostum atau hiburan masyarakat.

Di balik kemeriahan karnaval, tersimpan pesan kuat tentang bagaimana budaya Melayu dan warisan leluhur Natuna harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Hadisun, mengatakan pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara sesaat. Menurutnya, budaya harus terus dikenalkan, dikembangkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Budaya harus dilestarikan dan tidak boleh hilang dimakan waktu,” ujar Hadisun menyampaikan pesan Bupati Natuna Cen Sui Lan kepada wartawan, Kamis (8/10/2026).

Menurut Hadisun, generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Mereka tidak cukup hanya mengetahui budaya yang diwariskan para leluhur, tetapi juga harus diberi ruang untuk ikut menampilkan dan mengembangkannya.

“Kegiatan ini kita lakukan agar generasi muda, anak bangsa, tetap menghargai budaya kita,” katanya.

Hadisun menjelaskan, pemilihan tema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra” bukan tanpa alasan.

“Harmoni budaya menggambarkan keberagaman budaya masyarakat Natuna yang hidup berdampingan. Sementara lantai samudra menggambarkan posisi Natuna sebagai wilayah kepulauan yang kehidupan masyarakatnya memiliki hubungan kuat dengan laut,” jelasnya.

Ia menyebut Natuna sebagai wilayah yang memiliki sejarah geologi sangat panjang.

“Natuna ini hidup di lantai samudra yang sudah ada lebih dari 100 juta tahun,” ujarnya.

Menurutnya, kekayaan alam, sejarah, dan budaya tersebut merupakan modal penting dalam memperkuat identitas daerah, termasuk mendukung langkah Natuna menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

Karena itu, budaya tidak boleh hanya muncul ketika ada festival atau seremoni tertentu. Pemerintah daerah ingin budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus dikenal oleh generasi muda.

Karnaval budaya tahun ini juga hadir dengan konsep berbeda dibanding pelaksanaan sebelumnya.

Jika sebelumnya peserta tampil dalam kelompok, tahun ini konsep tersebut diubah menjadi penampilan perorangan.

Perubahan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai agenda sekolah yang membuat tidak seluruh pelajar dapat mengikuti kegiatan secara berkelompok.

Karnaval dijadwalkan dimulai pukul 06.30 WIB. Peserta nantinya akan dinilai oleh juri lokal berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari desain kostum, kreativitas, ide, atraksi hingga kesesuaian dengan tema.

“Kita kembangkan terkait budaya Melayu,” kata Hadisun.

Ia menegaskan, budaya Natuna memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar pakaian tradisional dan kesenian.

Warisan budaya tersebut mencakup adat istiadat, bahasa, tradisi lisan, ritual, pengetahuan tradisional, permainan rakyat hingga olahraga tradisional.

Dalam karnaval, kekayaan tersebut akan diterjemahkan melalui kostum dan kreativitas peserta sehingga budaya daerah dapat tampil dalam kemasan yang lebih dekat dengan generasi masa kini.

Hadisun menyebut terdapat 15 jenis kebudayaan tak benda yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Natuna, antara lain manuskrip, tradisi lisan, ritual, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Selain warisan budaya tak benda, Natuna juga memiliki warisan budaya benda yang masuk kategori cagar budaya, seperti situs, struktur, bangunan dan kawasan.

Untuk mendorong partisipasi masyarakat, Pemkab Natuna menyiapkan hadiah yang bersumber dari APBD.

Juara pertama mendapatkan Rp9 juta dan piala, juara kedua Rp7 juta dan piala, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp5 juta dan piala. Sementara itu, juara harapan I mendapat Rp3 juta dan juara harapan II Rp2 juta.

Panitia juga memberikan penghargaan kepada 10 peserta terbaik, masing-masing dengan hadiah Rp1 juta.

Namun, Hadisun menegaskan hadiah bukan tujuan utama kegiatan.

Menurutnya, nilai terpenting dari karnaval adalah bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, mendapatkan ruang untuk mengenal sekaligus mengekspresikan kebudayaan daerah.

“Tujuan kegiatan ini pengembangan kebudayaan, pembinaan. Intinya pemerintah ingin budaya ini tidak hilang dimakan zaman,” tegasnya.

Masyarakat yang ingin berpartisipasi masih diberikan kesempatan untuk mendaftarkan diri melalui kontak panitia maupun datang langsung ke Museum Sri Serindit. Pendaftaran dibuka hingga Sabtu pagi.

Hadisun mengakui pelaksanaan kegiatan budaya tidak lepas dari berbagai kendala. Salah satunya keterbatasan anggaran di sekolah serta adanya agenda internal sekolah yang bertepatan dengan pelaksanaan karnaval.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keberlangsungan budaya Natuna.

Bagi Pemkab Natuna, budaya merupakan bagian dari pembangunan daerah yang memiliki nilai strategis, sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur dan ekonomi.

Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari jalan, gedung maupun pertumbuhan ekonomi. Di balik pembangunan fisik, terdapat sejarah, adat, tradisi dan nilai-nilai yang menjadi identitas masyarakat.

Melalui Karnaval Budaya “Harmoni Budaya di Lantai Samudra”, Pemkab Natuna ingin memastikan warisan leluhur tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Budaya Melayu dan kekayaan budaya Natuna harus tetap hidup, dikenal, dicintai dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, ketika budaya mulai dilupakan, yang perlahan hilang bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga jati diri sebuah daerah (Zaki) 

Editor : Reza MF



Bagikan

Berita Terbaru