Liberika Meranti, Aroma Gambut dari Pesisir yang Menantang Krisis Iklim
KEPULAUAN MERANTI- Pagi baru saja tumbuh di Kepulauan Meranti. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan lahan gambut ketika para petani mulai melangkah ke kebun kopi mereka. Jalan tanah yang lembab, udara pesisir yang hangat, dan aroma kopi yang samar dari tungku rumah-rumah warga menjadi penanda kehidupan yang berjalan perlahan di daerah kepulauan itu.
Di tempat inilah, di tanah gambut yang dulu kerap dipandang sebelah mata untuk pertanian kopi, tumbuh satu jenis kopi yang kini mulai mencuri perhatian dunia: Liberika Meranti.
Perjalanan menuju sentra kopi liberika di Meranti bukan sekadar perjalanan menikmati secangkir kopi. Ini adalah perjalanan melihat bagaimana masyarakat pesisir bertahan, beradaptasi, sekaligus menjaga alam di tengah ancaman perubahan iklim global.
Founder ErberCoffee, Abdurrahman Farhumi, menyebut liberika memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak jenis kopi lain. Tanaman ini mampu tumbuh di dataran rendah dengan suhu panas, bahkan di lahan gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi.
“Prospek Kopi Liberika sangat cerah. Ini dikarenakan kopi liberika punya daya tahan yang kuat terhadap perubahan cuaca. Ini menjadi keunggulan tersendiri ketika kopi lain mulai mengalami tekanan akibat pemanasan global,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Di berbagai negara penghasil kopi, perubahan musim mulai mengganggu produksi arabika dan robusta. Suhu yang terus meningkat membuat kualitas dan produktivitas kedua jenis kopi tersebut mengalami tekanan. Namun di Meranti, liberika justru menemukan rumah terbaiknya.
Pohon-pohon kopi tumbuh di sela bentang gambut pesisir. Batangnya lebih tinggi dibanding kopi pada umumnya, dengan buah yang berukuran besar. Di tangan masyarakat setempat, kopi ini bukan hanya komoditas, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagi para penikmat kopi, liberika menawarkan pengalaman rasa yang berbeda. Aromanya kuat dengan karakter smoky dan earthy yang khas. Ada jejak rasa nangka matang dan cokelat tipis yang muncul di setiap tegukan. Sensasi itu terasa semakin nikmat ketika kopi diseduh langsung di kampung-kampung kopi Meranti, ditemani angin laut dan suasana desa yang tenang.
Perjalanan kuliner kopi di Meranti juga menghadirkan pengalaman sederhana namun hangat. Pengunjung bisa menikmati kopi liberika bersama kudapan tradisional Melayu, berbincang dengan petani, hingga melihat langsung proses pengeringan biji kopi di halaman rumah warga.
Di balik aromanya yang khas, tersimpan harapan besar masyarakat pesisir. Permintaan pasar terhadap kopi liberika terus meningkat. Malaysia, Singapura hingga Filipina disebut menjadi negara yang mulai melirik kopi khas Meranti tersebut.
Namun tingginya permintaan belum sepenuhnya mampu dipenuhi. Produksi kopi liberika masih terbatas dibanding kebutuhan pasar.
“Permintaannya ada, bahkan cukup tinggi. Tapi produksi kita saat ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar secara maksimal,” kata Abdurrahman.
Kondisi itu justru membuka peluang baru bagi petani muda di Kepulauan Meranti. Semakin banyak warga mulai melihat kopi liberika sebagai masa depan ekonomi pesisir. Selain menjanjikan penghasilan, budidaya kopi juga dianggap lebih ramah terhadap ekosistem gambut.
Tanaman kopi membantu menjaga tutupan lahan tanpa harus merusak kawasan gambut. Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, liberika hadir sebagai contoh bagaimana ekonomi dan alam bisa berjalan beriringan.
“Liberika bukan hanya soal komoditas kopi, tapi juga berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Kini, dari pulau-pulau kecil di pesisir Riau, aroma liberika perlahan mulai menembus pasar yang lebih luas. Kopi yang dahulu tumbuh sunyi di tanah gambut itu, justru diprediksi menjadi salah satu kopi masa depan di tengah krisis iklim dunia.
Dan bagi siapa saja yang datang ke Meranti, secangkir liberika bukan sekadar minuman. Ia adalah cerita tentang perjalanan, ketahanan masyarakat pesisir, dan harapan yang tumbuh dari tanah gambut. INDRA
Editor : Reza MF
Berita Terkait
Berita Terbaru
Pemprov Riau Dorong Sinergi dengan OJK, Perluas Akses Keuangan Masyarakat
- Riau
- 06 November 2026 18:53 WIB
Pemprov Riau Dukung Pengembangan Fakultas Kedokteran Gigi UIR, Perkuat SDM Kesehatan
- Pendidikan
- 06 November 2026 18:41 WIB
Puluhan Wartawan Riau Ikuti UKW JMSI, Perkuat Profesionalisme dan Kualitas Pers
- Riau
- 06 November 2026 18:32 WIB
Disdikbud Rohil Benahi Gedung Perkantoran, Progres Capai 30 Persen
- Rohil
- 06 November 2026 14:19 WIB
Pelaku UMKM Siap Banjiri Kenduri Rakyat HUT ke-27 Natuna, Kuliner Gratis Menanti Warga!
- Natuna
- 06 November 2026 12:24 WIB
Pemprov Riau Dukung Percepatan Musyawarah KONI
- Riau
- 05 November 2026 18:44 WIB
PLN Hijaukan Jalur Transmisi Bangkinang-Garuda Sakti, 200 Bibit Pohon Produktif Dukung Kesejahteraan Petani
- Nasional
- 05 November 2026 12:54 WIB
Komisi II DPRD Bersama Pemkab Kepulauan Meranti Bahas Penataan Aset Kelistrikan Desa, Keselamatan Warga Jadi Perhatian
- Kepulauan Meranti
- 05 November 2026 12:51 WIB
Pemprov Riau Matangkan Peringatan Hari Pahlawan 2026, Tiga Lokasi Upacara Disiapkan
- Riau
- 04 November 2026 19:36 WIB
PA Bangkinang dan JMSI Kampar Perkuat Kemitraan Strategis Tekait Keterbukaan Informasi
- Kampar
- 04 November 2026 17:37 WIB
Perkuat Pertahanan Negara, Pemko Batam Kirim 35 ASN Ikuti Seleksi Komcad
- Batam
- 04 November 2026 11:12 WIB
Pendaftaran Program Magang Nasional Kemnaker Batch III di PT Pelabuhan Karimun Resmi Dibuka, Ini Divisi Magang yang Dibutuhkan
- Karimun
- 04 November 2026 08:17 WIB
Di Balik Rimbunnya Hutan Perbatasan, Tiang PLN Berdiri Tegak Membawa Harapan
- Natuna
- 03 November 2026 20:53 WIB
Batam Luncurkan BATAMMAS, Perkuat Pengawasan dan Optimalisasi Aset Daerah
- Batam
- 03 November 2026 15:45 WIB
Ubed Bidik Hasil Lebih Baik di Korea Open 2026, Meski Persiapan Sangat Mepet
- Olahraga
- 02 November 2026 19:45 WIB

