Teuku Nanda Fulizar: Dari Mainan Beko Jadi Ahli K3 Nasional
BATAM – Sore itu suasana di sebuah ruko kawasan Tiban terasa tenang. Di ruang tamu sederhana, Teuku Nanda Fulizar duduk santai sambil menceritakan perjalanan hidupnya. Tuturnya pelan, namun setiap kisah yang disampaikan menggambarkan perjalanan panjang tentang ketekunan, proses belajar, dan pilihan hidup yang perlahan membawanya menjadi salah satu praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia.
Pria kelahiran Aceh tahun 1984 itu merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Masa kecilnya dilalui di tengah situasi Aceh yang kala itu memasuki masa Daerah Operasi Militer (DOM). Kondisi tersebut membuat kedua orang tuanya memutuskan pindah ke Batam pada tahun 1996.
“Karena orang tua merasa kondisi di Aceh tidak kondusif, akhirnya saya dibawa ke Batam,” kenangnya.
Bagi Nanda, Batam bukan sekadar kota tujuan. Di kota industri inilah ketertarikannya terhadap dunia teknik dan keselamatan kerja mulai tumbuh. Semua bermula dari kegemarannya memainkan miniatur alat berat sejak kecil.
Bulldozer, excavator, hingga beko menjadi benda yang sangat akrab dalam kesehariannya. Tidak hanya dimainkan, ia bahkan menghafal nama, fungsi, dan cara kerja alat-alat tersebut.
“Saya memang suka mainan alat berat sejak SD. Sampai hafal nama dan fungsinya,” ujarnya sambil tersenyum.
Ketertarikannya terhadap dunia K3 juga tidak lepas dari pengaruh sang ayah, almarhum Syaifudin, yang pernah menjabat sebagai Kepala Seksi K3 di Disnaker Batam.
Sejak duduk di bangku SMA, Nanda mulai sering mengikuti aktivitas sang ayah saat memberikan pelatihan maupun inspeksi lapangan. Ia membantu mengoperasikan komputer presentasi sambil menyerap materi yang disampaikan.
“Saya baca materinya hampir setiap hari sambil lihat beliau presentasi,” katanya.
Tanpa disadari, pengalaman itu menjadi fondasi awal yang membentuk pemahamannya terhadap dunia keselamatan kerja. Ia mulai memahami bagaimana standar keselamatan diterapkan, sekaligus melihat langsung pelanggaran yang masih sering terjadi di lapangan.
Pada tahun 2004, saat masih kuliah di Politeknik Negeri Batam jurusan Informatika Komputer, Nanda mengambil sertifikasi Ahli K3 Umum. Meski berbeda dengan bidang kuliahnya, materi tersebut terasa sangat dekat baginya.
“Materinya seperti sudah saya kenal sejak lama,” ujarnya.
Pelatihan yang digelar di Swiss-Belhotel Batam itu menjadi titik awal penting dalam kariernya. Nanda berhasil lulus dengan predikat peserta terbaik.
Namun baginya, teori saja belum cukup. Ia memilih memulai karier dari bawah dengan bekerja sebagai safetyman di sebuah perusahaan di Sekupang sambil tetap menjalankan tugas di bidang IT.
Selama bekerja, ia terus meningkatkan kompetensi dengan mengambil pelatihan Non-Destructive Test (NDT), yaitu metode pemeriksaan kualitas material tanpa merusak struktur benda.
“Kalau ada rongga udara dalam hasil las, itu bisa berbahaya karena rawan patah,” jelasnya.
Kariernya perlahan berkembang, mulai dari safetyman hingga menjadi safety officer di sejumlah perusahaan. Namun di tengah perjalanan karier yang mulai stabil, ia justru mengambil keputusan besar: berhenti bekerja untuk kembali belajar.
Pada tahun 2008, di usia 22 tahun, Nanda menikah. Di saat banyak orang mengejar kenyamanan kerja, ia memilih mengambil spesialisasi K3 Pesawat Angkat dan Angkut di bawah Kementerian Ketenagakerjaan.
“Orang tua bilang, stop bekerja dulu, saatnya naik jenjang karier,” kenangnya.
Pelatihan selama tiga bulan di Jakarta menjadi titik balik hidupnya. Sekembalinya ke Batam, ia tidak lagi sekadar mencari pekerjaan, melainkan mulai membangun usaha sendiri.
Di usia 27 tahun, ia dipercaya menjadi Direktur Utama perusahaan keluarga yang bergerak di bidang sertifikasi dan inspeksi K3.
“Di umur 27 tahun saya sudah jadi ahli K3 spesialis sekaligus direktur utama,” katanya.
Perjalanannya tidak berhenti di situ. Ia kembali mengambil spesialisasi lain di bidang pesawat uap dan bejana tekan. Dari proses panjang itulah ia terus membangun dan mengembangkan usahanya.
Hingga akhirnya pada tahun 2021, ia mendirikan PT Kana Bintang Sertifindo yang masih dijalankannya hingga kini.
Saat ini, perusahaan tersebut menangani sekitar 800 perusahaan di Kepulauan Riau dan lebih dari 1.600 perusahaan di seluruh Indonesia.
Meski telah mencapai banyak hal, Nanda mengaku masih menyimpan kegelisahan terhadap tingginya angka kecelakaan kerja yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, masih banyak perusahaan yang menganggap keselamatan kerja hanya sebagai beban biaya, bukan investasi jangka panjang.
“K3 itu bukan cost, tapi investasi. Kalau perusahaan peduli terhadap keselamatan kerja, saya yakin perusahaan itu akan berkembang lebih baik,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kompetensi tenaga ahli K3. Menurutnya, label semata tidak cukup tanpa pemahaman dan kemampuan yang benar.
“Pastikan yang ditunjuk menjadi ahli K3 benar-benar kompeten. Jangan hanya label, tapi tidak memahami tugasnya,” ujarnya.
Bagi Teuku Nanda Fulizar, keselamatan kerja bukan sekadar aturan administrasi, melainkan bentuk kepedulian terhadap kehidupan manusia.
Dan perjalanan itu, ternyata dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebuah mainan alat berat di tangan seorang anak kecil.(Hl)
Editor : Herdi Pasai
Berita Terkait
Berita Terbaru
Identitas Korban Jatuh dari Jembatan Rantau Berangin Terungkap, Tim Gabungan Masih Lakukan Pencarian
- Kampar
- 04 Agustus 2026 17:42 WIB
Tinjau Hasil Pembangunan TMMD ke-129, Tim Wasev Mabesad Evaluasi Sasaran Fisik
- Pelalawan
- 04 Agustus 2026 17:40 WIB
Diduga Bunuh Diri, Seorang Pria Terjun dari Jembatan Rantau Berangin
- Kampar
- 04 Agustus 2026 09:57 WIB
Wujudkan Program TMAB, Satgas TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR Rampungkan Pengecoran Fondasi Tower Air Bersih
- Pelalawan
- 04 Agustus 2026 09:23 WIB
Komisi I DPRD Karimun Dorong Percepatan SIMPATI DESA untuk Perkuat Layanan Adminduk di Kabupaten Karimun.
- Karimun
- 03 Agustus 2026 23:41 WIB
Indonesia Tertinggal 0-2 dari Vietnam dalam 15 Menit Pertama di Stadion Pakansari
- Olahraga
- 03 Agustus 2026 21:36 WIB
Ekonomi Batam Diproyeksikan Tumbuh hingga 7,4 Persen, Pemko Naikkan Target Pendapatan Daerah
- Batam
- 03 Agustus 2026 17:10 WIB
Amsakar: Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman bagi Anak untuk Tumbuh dan Berprestasi
- Batam
- 03 Agustus 2026 14:12 WIB
Pemprov Riau Gelar Operasi Pasar Murah di Kampar dan Pekanbaru, Berikut Jadwalnya
- Ekonomi
- 03 Agustus 2026 13:08 WIB
Pemkab Kuansing Tunggu Kepastian Pejabat Pusat untuk Buka Festival Pacu Jalur 2026
- Traveliner
- 03 Agustus 2026 13:00 WIB
TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR: Pembangunan MCK Masjid Al-Hijrah Capai 70 Persen
- Pelalawan
- 03 Agustus 2026 09:39 WIB
Leo/Daniel Juara Taipei Open 2026, Raih Gelar Kedua Musim Ini
- Olahraga
- 03 Agustus 2026 06:01 WIB
Dulux Raih Top Brand Award 2026, Perkuat Posisi sebagai Merek Cat Pilihan Masyarakat Indonesia
- Ekonomi
- 02 Agustus 2026 13:54 WIB
Di Balik Kesibukan Memimpin Batam, Amsakar Dapat Kejutan Hangat di Ulang Tahun ke-58
- Batam
- 02 Agustus 2026 11:15 WIB
Leo/Daniel Melaju ke Final Taipei Open 2026, Siap Tantang Ganda Malaysia
- Olahraga
- 02 Agustus 2026 10:34 WIB
Kemanunggalan TNI dan Rakyat, Pembangunan RTLH Milik Zaini dalam TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR Terus Dikebut
- Pelalawan
- 02 Agustus 2026 10:29 WIB

