Rektor Universitas Pahlawan Perkenalkan Kebun Raya ke Dunia, Simpan Ratusan Koleksi Tumbuhan

BANGKINANG – Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar mendukung pengembangan Kebun Raya Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UPTT) sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan dan melindungi keanekaragaman hayati.

Dukungan tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan field trip atau kunjungan lapangan mengelilingi kawasan kebun raya di kampus induk UPTT, Bangkinang, Jumat (9/10/2026).

Kegiatan ini merupakan rangkaian Simposium Internasional Universitas Pahlawan 2026 yang berlangsung di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar, Rektor UPTT Prof. Dr. Amir Luthfi, Direktur Kebun Raya Universitas Pahlawan Dr. Samsul Bahri, M.Si., civitas akademika UPTT, serta sejumlah pakar dan pengelola kebun raya dari berbagai negara.

Di antara peserta internasional yang hadir adalah Dr. Robinson Alastair dari Royal Botanic Gardens Victoria, Australia; Theo Damen dari Balmonte & Arboretum, Belanda; Dr. Kate Delaporte dari Waite Arboretum, University of Adelaide, Australia; Nur Nisha Binti Moh Idrus dari Taman Botani Putrajaya, Malaysia; serta Prof. Dr. Charles Cannon dari Xishuangbanna Botanical Garden, China.

Para peserta diajak menyusuri kawasan kebun raya yang memiliki kontur cukup menantang, mulai dari turunan hingga jalur pendakian dengan ratusan anak tangga. Perjalanan tersebut menjadi kesempatan bagi para ahli untuk melihat langsung potensi keanekaragaman hayati dan kondisi ekosistem yang dimiliki Kebun Raya Universitas Pahlawan.

Bupati Kampar Ahmad Yuzar menyatakan dukungannya terhadap program pengembangan kebun raya tersebut. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang semakin penting di tengah kerusakan alam yang terjadi.

"Program ini sangat baik dan sejalan dengan upaya menjaga kelestarian alam. Kita jaga lingkungan, lingkungan jaga kita," ujar Ahmad Yuzar.

Ia menilai degradasi lingkungan telah menjadi persoalan serius sehingga diperlukan langkah nyata untuk melindungi ekosistem dan mempertahankan keberadaan berbagai jenis tumbuhan.

"Kita bersyukur ada Universitas Pahlawan yang ikut menjaga sistem ekologi melalui pengembangan kebun raya," katanya.

Sementara itu, Dr. Robinson Alastair dari Royal Botanic Gardens Victoria, Australia, mengaku terkesan dengan kondisi Kebun Raya Universitas Pahlawan. Pakar yang akrab disapa Mr. Ali tersebut menilai kesan pertamanya terhadap kawasan itu sangat positif.

"Cantik. Baru sampai, impresi pertama sangat bagus," ungkapnya.

Salah satu tanaman yang menarik perhatiannya adalah pohon sialang, yang dikenal sebagai habitat lebah penghasil madu sialang. Ia mengaku pernah melakukan penelitian mengenai pohon sialang di Malaysia dan sudah beberapa kali mencicipi madu yang dihasilkan lebah tersebut.

"Saya juga sering mencoba madu sialang. Enak," ujarnya.

Mengenai jalur penelusuran kebun raya, Mr. Ali menilai lintasan yang mengikuti kontur lembah dan perbukitan cukup menarik. Meski terdapat tanjakan dan turunan, ia menganggap jalur tersebut tidak terlalu sulit.

Ia mengaku sudah terbiasa melakukan kegiatan mendaki atau hiking. Selain itu, ia rutin berjoging dua kali seminggu dengan jarak sekitar 20–30 kilometer, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya.

"Ya, lintasannya tidak terlalu sulit," katanya ramah.

Direktur Kebun Raya Universitas Pahlawan, Dr. Samsul Bahri, M.Si., menjelaskan bahwa kawasan kebun raya tersebut ditargetkan mencapai 152 hektare yang terbagi dalam dua blok, yakni Blok A dan Blok B.

Saat ini, Blok A telah memiliki kawasan seluas sekitar 30 hektare. Sementara itu, Blok B diproyeksikan menjadi kawasan pendukung pengembangan kebun raya yang sebagian besar masih berupa hutan alami.

Samsul menyebutkan, saat ini Kebun Raya Universitas Pahlawan telah memiliki sekitar 320 koleksi tumbuhan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 jenis telah teridentifikasi dan tercatat dalam 45 famili.

Rektor UPTT Prof. Dr. Amir Luthfi menjelaskan, gagasan pembangunan kebun raya berawal dari rencana perluasan kampus. Ketika universitas membeli lahan di sekitar kampus, ditemukan kawasan hutan yang masih alami dengan beragam koleksi pepohonan, termasuk jenis tumbuhan yang dinilai langka.

Dari temuan tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan kawasan itu menjadi kebun raya. Universitas Pahlawan kemudian menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada 2023, pembangunan kebun raya ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking.

Amir mengaku tidak menyangka kawasan yang awalnya dipersiapkan untuk mendukung perluasan kampus dapat berkembang menjadi kebun raya dengan potensi konservasi yang besar.

Menurutnya, kondisi lahan yang memiliki kontur beragam menjadi salah satu keunggulan kawasan tersebut. Selain itu, kawasan yang direncanakan untuk pengembangan Blok B memiliki potensi sumber mata air dan hutan alami yang perlu dijaga kelestariannya.

Ia menyebutkan, pengembangan kawasan kebun raya dilakukan secara bertahap, termasuk melalui pembebasan lahan untuk memenuhi target luasan yang direncanakan.

Amir juga mengapresiasi dukungan BRIN terhadap pengembangan kebun raya tersebut. Ia menyebut Universitas Pahlawan mendapat apresiasi sebagai perguruan tinggi swasta yang pertama mengembangkan kebun raya.

Melalui penyelenggaraan simposium internasional dan kunjungan lapangan ini, UPTT turut memperkenalkan potensi kebun raya kepada komunitas botani internasional, termasuk para ahli dari Australia, Malaysia, Belanda, dan China.

Kehadiran Prof. Dr. Charles Cannon dari Xishuangbanna Botanical Garden, salah satu lembaga kebun raya terkemuka di China, menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kerja sama dan pertukaran pengetahuan di bidang konservasi tumbuhan.

Amir berharap pengembangan Kebun Raya Universitas Pahlawan mendapat dukungan moral maupun material dari pemerintah dan berbagai pihak agar upaya konservasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Ia menegaskan, kawasan tersebut menyimpan potensi tumbuhan yang perlu dijaga, termasuk berbagai jenis rotan, belimbing hutan, dan pohon sialang. 

Amir juga mengungkapkan bahwa pendanaan kegiatan pengembangan kebun raya selama ini dilakukan secara mandiri oleh pihak universitas.

Diakhir acara, para pakar kebun raya dunia melakukan penanaman bibit pohon di Kebun Raya Universitas Pahlawan. HP

Editor : Reza MF
Tag : # Kampar



Bagikan

Berita Terbaru