Kekosongan Chef Tak Segera Diisi, SPPG Pilih Bebani 1 Orang Urus 2 Dapur

Kampar -- Di tengah target ribuan porsi perhari, kebijakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menugaskan satu chef untuk mengelola dua dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menjadi kritik tajam.

Setiap dapur MBG memproduksi 1.800 hingga 2.000 porsi per hari, artinya satu chef bertanggung jawab atas kualitas, gizi dan rasa setiap harinya. Beban kerja ganda itu dianggap tidak realistis, apalagi dengan jarak antar dapur yang mencapai 12 km dan waktu produksi yang sangat terbatas.

Seorang pekerja yang berinisial Y mengungkapkan bahwa seorang chef diketahui merangkap tugas di dua lokasi berbeda yakni di wilayah Bangkinang dan Airtiris. Dalam praktiknya, chef tersebut harus berpindah lokasi dalam waktu yang relatif singkat.

"Chef tersebut melakukan tugas nya sekitar pukul 22.00 WIB masih di Airtiris, kemudian pukul 01.00 dini hari sudah harus bertugas di dapur Bangkinang," ujarnya.

Kemudian SPPG Bangkinang merupakan SPPG tempat sang chef resmi tercatat sebagai chef. Kondisi ini dinilai cukup menantang, karena beban kerja yang ditanggung berpotensi memengaruhi optimalisasi pengawasan kualitas makanan termasuk aspek kebersihan, kandungan gizi dan penyaluran distribusi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Yayasan Madani Jaya Berdikari, M. Alfikri Ramadhan membenarkan hal itu serta menyatakan kondisi tersebut masih dapat ditangani selama yang bersangkutan menyatakan kesanggupan.

"Selama yang bersangkutan masih mampu menjalankan tugasnya, tidak menjadi persoalan," ujar Fikri saat dikonfirmasi awak media di Airtiris, Senin (04/05/2026).

Lebih lanjut, dalam petunjuk teknis (Juknis) yang ada, tidak terdapat larangan eksplisit terkait penugasan chef yang lebih dari satu dapur. Pihaknya juga mengaku belum melakukan rekrutmen pengganti chef yang sebelumnya mengundurkan diri.

"Karena chef mundur hari Sabtu sedangkan hari Senin kami sudah harus memasak, maka nya kami pakai chef yang ini," jelasnya.

Meski demikian, sejumlah kalangan menilai perlunya evaluasi terhadap pola kerja tersebut. Dalam program yang menyasar pemenuhan gizi masyarakat khususnya pelajar, aspek konsistensi, kualitas dan keamanan pangan dinilai menjadi prioritas utama.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak mitra melalui nomor telepon pribadinya belum adanya tanggapan. MMS

Editor : Herdi Pasai
Tag : # Kampar



Bagikan