Belajar Toleransi dan Kemanusiaan dari Gusdur

Resonansi.co - Gus Dur, alias K.H.Abdurrahman Wahid, adalah sosok yang selalu menarik buat dibahas, apalagi soal pemikiran agamanya. Beliau sering membahas soal Islam modern. Tapi, apa sih maksudnya berislam secara modern itu? Intinya, berislam secara modern itu bukan berarti mengubah ajaran dasar Islam, tapi gimana caranya kita sebagai umat Muslim bisa menghadapi tantangan dan dinamika zaman modern tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman yang sejati. Ini tentang menjadi Muslim yang inklusif (terbuka), moderat (seimbang), dan relevan di tengah masyarakat yang majemuk dan serba cepat.

Kata Gus Dur, Islam itu harus bisa nyambung dengan perkembangan zaman. Itu artinya, kita gak boleh kaku, apalagi sampai menolak hal-hal baru yang sebenarnya bermanfaat, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, atau demokrasi. Bayangkan saja, kalau kamu pakai smartphone canggih, tapi pola pikirmu masih kuno. Gak nyambung, kan? Nah, Islam modern itu mengajak kita buat kontekstualisasi ajaran agama. Misalnya, gimana nilai-nilai keadilan dalam Al-Qur'an kita terapkan di sistem hukum dan politik Indonesia hari ini? Atau, gimana cara berdakwah yang bisa diterima sama anak muda yang aktif di media sosial?

Salah satu tantangan terbesar di era modern adalah benturan antara ilmu agama (faith) dan ilmu pengetahuan (fact). Gus Dur percaya bahwa keduanya tidak perlu dipertentangkan. Ilmu agama memberi kita arah dan moral, sedangkan sains dan teknologi memberi kita alat dan cara untuk mencapai kemaslahatan bersama.Sebagai Muslim modern, kita diajak buat jadi orang yang kritis dalam berpikir, tapi juga tawadu' (rendah hati) dalam beriman. Kita gak boleh buta teknologi, tapi juga gak boleh menjadikan teknologi sebagai "tuhan" baru. Keseimbangan inilah yang jadi kunci. Kalau ditanya Gus Dur terkenal karena apa, jawaban yang paling kuat pasti soal toleransi dan pluralisme. Beliau ini adalah pejuang sejati bagi kaum minoritas di Indonesia, apapun agama atau sukunya.

Lalu, apa yang menjadi dasar pemikiran Gus Dur tentang pentingnya toleransi antar umat beragama? Jawabannya sederhana, tapi mendalam yaitu Kemanusiaan.

Gus Dur berpegangan pada konsep "Ukhuwah Basyariyah" atau Persaudaraan Kemanusiaan. Beliau selalu menekankan bahwa sebelum kita melihat orang lain sebagai "Muslim", "Kristen", "Hindu", atau "Buddha", kita harus melihat mereka sebagai sesama manusia, ciptaan Tuhan yang punya hak dan martabat yang sama. Dalam pandangan beliau, tujuan Tuhan menurunkan agama itu adalah untuk mengatur pola kehidupan manusia, baik hubungan dengan Tuhan (vertikal) maupun hubungan dengan sesama (horizontal). Nilai-nilai seperti keadilan dan kesetaraan harus jadi prioritas, bahkan di atas kepentingan kelompok agama tertentu.

Beliau pernah berkata "Tuhan tidak perlu dibela, Ia sudah Maha Segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil."

Bagi Gus Dur, toleransi itu bukan cuma sekadar "bersikap sopan" atau "basa-basi" menghormati agama lain saat perayaan. Toleransi harus diwujudkan dalam pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan diteruskan dengan saling memiliki (sense of belonging).

Ketika ada kelompok minoritas yang ditindas, Gus Dur akan pasang badan membela mereka. Ini adalah toleransi yang aktif dan militan. Contoh nyatanya adalah usahanya untuk mencabut diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan menjadikan Konghucu sebagai agama yang diakui di Indonesia. Inilah kenapa beliau dijuluki "Bapak Pluralisme Indonesia".

Pemikiran Gus Dur tentang toleransi berakar kuat dari Sembilan Nilai Utama Gus Dur yang dipegang oleh komunitas Gusdurian. Nilai-nilai ini menjadi panduan dalam bersikap:

  1. Ketauhidan: Mengesakan Tuhan.
  2. Kemanusiaan: Menjunjung tinggi martabat manusia.
  3. Keadilan: Berpihak pada yang benar dan adil.
  4. Kesetaraan: Semua manusia sama di hadapan hukum dan Tuhan.
  5. Pembebasan: Membebaskan manusia dari penindasan dan kemiskinan.
  6. Kesederhanaan: Hidup wajar, menolak sikap berlebihan dan koruptif.
  7. Persaudaraan: Baik Ukhuwah Islamiyah (sesama Muslim), Wathaniyah (sesama bangsa), maupun Basyariyah (sesama manusia).
  8. Keksatriaan: Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Kearifan Lokal: Menghargai tradisi dan budaya yang tidak bertentangan dengan agama.

Gus Dur terkenal karena apa? Ada banyak alasan, tapi yang paling menonjol dan membuatnya abadi di hati banyak orang adalah tiga hal ini:

Bapak Pluralisme Indonesia

Julukan ini adalah yang paling melekat. Beliau adalah simbol dari keberanian membela minoritas. Di masa-masa sulit, ketika diskriminasi rasial dan agama masih sangat kuat, Gus Dur adalah orang yang paling vokal melawan arus.

Ia tidak hanya bicara, tapi juga bertindak melalui kebijakan, seperti menghapus Inpres yang membatasi kegiatan keagamaan Tionghoa dan mencabut istilah "Pribumi-Nonpribumi". Keberaniannya ini menunjukkan bahwa toleransi baginya bukan wacana, tapi tindakan nyata untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan setara.

Presiden Nyentrik yang Berani Beda

Sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia (1999–2001), Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang ceplas-ceplos, punya humor tinggi, dan sering membuat kejutan. Ia tidak takut mengkritik siapa pun, bahkan dirinya sendiri.

Keputusannya yang sering dianggap "nyeleneh" (misalnya membubarkan beberapa departemen) seringkali didasari oleh pemikiran yang jauh ke depan, meskipun pada saat itu belum dipahami banyak orang. Ia adalah simbol integritas dan idealisme yang menempatkan kepentingan rakyat dan kemanusiaan di atas kepentingan politik praktis.

 Sosok Guru Bangsa

Jauh sebelum jadi presiden, Gus Dur adalah cendekiawan Muslim yang luas wawasannya. Beliau memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama bertahun-tahun dan dikenal sebagai sosok yang memajukan pemikiran Islam di Indonesia. Beliau rajin membaca buku dari berbagai aliran, mulai dari filsafat klasik sampai Marxisme, membuatnya punya perspektif yang sangat kaya dan kritis.

Gelar Guru Bangsa disematkan padanya karena beliau bukan cuma mengajarkan agama, tapi juga nilai-nilai moral, kebangsaan, dan kemanusiaan. Beliau adalah jembatan antara tradisi Islam (pesantren) dan modernitas (pemikiran Barat).

Buat kamu, anak muda usia 18 sampai 28 tahun, warisan pemikiran Gus Dur ini sangat relevan. Kita hidup di era polarisasi, di mana perbedaan seringkali dijadikan alasan untuk saling membenci.

Gus Dur mengajarkan kita untuk:

  • Berislam dengan Otak Terbuka: Jadi Muslim yang kritis, rasional, dan berani berdialog dengan dunia modern.
  • Hidup Tanpa Sekat: Menjadikan kemanusiaan sebagai titik temu tertinggi. Agama tidak boleh menjadi tembok yang memisahkan kita dari sesama.
  • Berani Bersuara: Jangan takut membela kebenaran dan keadilan, meskipun kamu harus berdiri sendirian.

Intinya, Gus Dur menawarkan model beragama yang santai (gak tegang), toleran, dan bahagia. Agama harusnya menjadi sumber kedamaian, bukan sumber konflik. Dengan meneladani semangat Ukhuwah Basyariyah-nya, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih keren, lebih damai, dan lebih manusiawi.

Apakah kamu siap menjadi bagian dari generasi yang meneruskan semangat toleransi ala Gus Dur?.

Editor : Reza MF
Tag : # artikel



Bagikan