Chou Tien Chen Belum Tunjukkan Tanda-tanda Melambat

Changzhou – Ketika Chou Tien Chen memulai karier internasionalnya pada 2007, lawannya di final China Open 2026, Toma Junior Popov, baru berusia sembilan tahun. Sembilan belas tahun kemudian, pebulu tangkis veteran asal Taiwan itu membuktikan bahwa pengalaman, ketangguhan, dan disiplin masih mampu mengungguli semangat serta tenaga pemain yang jauh lebih muda.

Pada usia 36 tahun 200 hari, Chou mengukir sejarah sebagai pemain tertua yang menjuarai turnamen BWF World Tour Super 1000. Ia memastikan gelar China Open 2026 setelah menaklukkan Popov melalui pertarungan tiga gim dengan skor 21-15, 7-21, 21-13 pada partai final di Olympic Sports Center Gymnasium, Changzhou, Minggu (26/7).

Gelar tersebut menjadi puncak dari salah satu penampilan terbaik dalam karier panjang Chou. Dalam perjalanannya menuju podium juara, ia lebih dahulu menyingkirkan unggulan pertama sekaligus juara bertahan asal China, Shi Yu Qi, serta juara All England 2026 sesama wakil Taiwan, Lin Chun-Yi. Rangkaian kemenangan itu menegaskan bahwa Chou masih mampu bersaing di level tertinggi meski usianya tak lagi muda.

Pertandingan final juga memperlihatkan karakter permainan khas Chou. Setelah merebut gim pertama, ia kehilangan momentum pada gim kedua akibat permainan agresif Popov. Namun pada gim penentuan, Chou kembali menunjukkan ketenangan dan kematangan. Ia melesat unggul hingga tujuh poin sebelum mempertahankan keunggulan tersebut untuk mengunci kemenangan dan membawa pulang gelar juara.

Bagi Chou, yang menjalani operasi kolektomi setelah didiagnosis menderita kanker kolorektal stadium awal pada 2023, sekadar kembali bersaing di level tertinggi dunia sempat menjadi sesuatu yang tidak pasti. Karena itu, keberhasilannya merebut gelar pertama sejak Arctic Open pada Oktober tahun lalu, sekaligus gelar BWF World Tour Super 1000 pertama sejak menjuarai Indonesia Open 2019, menjadi pencapaian yang terasa semakin istimewa.

"Luar biasa. Saya tidak menyangka bisa tampil di final, apalagi menjadi juara. Saya sangat menghargai momen ini. Bertanding di level seperti ini pada usia saya bukanlah hal yang mudah. Saya bersyukur masih diberi kesempatan," ujar Chou seperti dikutip dari laman Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Selasa (28/7).

Chou mengungkapkan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari rutinitas yang dijalani setiap hari untuk menjaga kondisi fisik dan memperpanjang karier di level elite. Menurutnya, disiplin menjalani fisioterapi, menjaga asupan nutrisi, serta menjalankan berbagai program pemulihan menjadi fondasi utama yang membuatnya tetap mampu bersaing dengan para pemain yang jauh lebih muda.

Bagi Chou, keberhasilan tersebut bukan sekadar kemenangan di lapangan, melainkan juga kemenangan melawan waktu. Di tengah persaingan yang semakin ketat, ia mampu mempertahankan konsistensi dan daya saing selama hampir dua dekade. Menurutnya, rahasia perjalanan panjang itu bukan semata-mata bakat atau koleksi gelar, melainkan komitmen untuk terus merawat tubuh dan menjalani setiap proses dengan disiplin.

"Anda harus selalu menjaga pikiran tetap positif. Saya tidak bisa menentukan hasil akhir, tetapi saya bisa menentukan sikap saya. Jadi, saya terus mempertahankan pola pikir tersebut," kata Chou.

Waktu Chou untuk merayakan keberhasilan itu pun tidak berlangsung lama. Dalam beberapa hari ke depan, ia akan kembali tampil sebagai unggulan pertama di Taipei Open 2026. Pada usia 36 tahun, Chou kembali membuktikan bahwa dirinya belum menunjukkan tanda-tanda melambat dan masih siap bersaing di level tertinggi bulu tangkis dunia. Reza

Editor : Reza MF
Tag : # badminton



Bagikan

Berita Terbaru