Plt Gubernur Riau Ungkap Akar Konflik Agraria, Soroti Tata Kelola dan Perizinan
PEKANBARU- Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, memaparkan sejumlah faktor utama penyebab konflik agraria di Provinsi Riau yang dinilai bersifat kompleks dan saling berkaitan.
Menurutnya, konflik agraria tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan harus dilihat melalui pendekatan yang terstruktur, mulai dari aspek tata kelola, sejarah penguasaan lahan, perizinan, hingga tekanan ekonomi masyarakat.
“Persoalan konflik agraria di Riau perlu dilihat secara menyeluruh. Salah satunya dari sisi tata kelola yang belum sinkron antara tata ruang, kawasan hutan, dan perizinan perkebunan,” ujarnya di Gedung Daerah Balai Serindit, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, ketidaksinkronan tersebut menimbulkan tumpang tindih kebijakan antara administrasi daerah dan ketentuan kehutanan nasional, sehingga memicu ketidakpastian hukum di lapangan.
“Ada kondisi di mana lahan yang secara administrasi sah di daerah, di sisi lain masuk dalam kawasan hutan. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukum,” katanya.
Selain itu, faktor sejarah penguasaan lahan juga menjadi penyebab utama konflik yang hingga kini belum terselesaikan. Banyak lahan perkebunan masyarakat, khususnya kelapa sawit, telah dikelola sejak 1980-an hingga 1990-an.
Namun, penetapan kawasan hutan dilakukan setelahnya tanpa diikuti penyelesaian terhadap hak-hak yang telah ada, sehingga memunculkan perbedaan persepsi antara masyarakat dan aspek legal formal. “Akibatnya, masyarakat merasa memiliki lahan, tetapi secara hukum belum sepenuhnya diakui,” ujarnya.
Dari sisi perizinan, ia menilai pengelolaan pada masa lalu belum terintegrasi, sehingga menimbulkan tumpang tindih izin. Kondisi tersebut menyebabkan berkembangnya kebun di kawasan yang tidak sesuai peruntukan.
Selain itu, masih terdapat perusahaan yang belum menyelesaikan aspek legalitas secara penuh, termasuk hak guna usaha (HGU). “Kondisi ini menjadi pemicu konflik yang terus berulang,” tegasnya.
SF Hariyanto juga menyoroti faktor ekonomi sebagai pendorong konflik agraria. Kelapa sawit sebagai komoditas utama memiliki nilai ekonomi tinggi, sementara akses masyarakat terhadap lahan legal masih terbatas.
Akibatnya, sebagian masyarakat memanfaatkan lahan yang secara hukum bermasalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. “Tekanan ekonomi dan keterbatasan akses lahan mendorong masyarakat memanfaatkan kawasan yang secara hukum belum jelas statusnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, penyelesaian konflik agraria memerlukan pendekatan komprehensif dan kolaborasi seluruh pihak agar dapat menghasilkan solusi yang adil dan berkelanjutan. Adv
Editor : Nurdin Tambunan
Berita Terkait
Berita Terbaru
Identitas Korban Jatuh dari Jembatan Rantau Berangin Terungkap, Tim Gabungan Masih Lakukan Pencarian
- Kampar
- 04 Agustus 2026 17:42 WIB
Tinjau Hasil Pembangunan TMMD ke-129, Tim Wasev Mabesad Evaluasi Sasaran Fisik
- Pelalawan
- 04 Agustus 2026 17:40 WIB
Diduga Bunuh Diri, Seorang Pria Terjun dari Jembatan Rantau Berangin
- Kampar
- 04 Agustus 2026 09:57 WIB
Wujudkan Program TMAB, Satgas TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR Rampungkan Pengecoran Fondasi Tower Air Bersih
- Pelalawan
- 04 Agustus 2026 09:23 WIB
Komisi I DPRD Karimun Dorong Percepatan SIMPATI DESA untuk Perkuat Layanan Adminduk di Kabupaten Karimun.
- Karimun
- 03 Agustus 2026 23:41 WIB
Indonesia Tertinggal 0-2 dari Vietnam dalam 15 Menit Pertama di Stadion Pakansari
- Olahraga
- 03 Agustus 2026 21:36 WIB
Ekonomi Batam Diproyeksikan Tumbuh hingga 7,4 Persen, Pemko Naikkan Target Pendapatan Daerah
- Batam
- 03 Agustus 2026 17:10 WIB
Amsakar: Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman bagi Anak untuk Tumbuh dan Berprestasi
- Batam
- 03 Agustus 2026 14:12 WIB
Pemprov Riau Gelar Operasi Pasar Murah di Kampar dan Pekanbaru, Berikut Jadwalnya
- Ekonomi
- 03 Agustus 2026 13:08 WIB
Pemkab Kuansing Tunggu Kepastian Pejabat Pusat untuk Buka Festival Pacu Jalur 2026
- Traveliner
- 03 Agustus 2026 13:00 WIB
TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR: Pembangunan MCK Masjid Al-Hijrah Capai 70 Persen
- Pelalawan
- 03 Agustus 2026 09:39 WIB
Leo/Daniel Juara Taipei Open 2026, Raih Gelar Kedua Musim Ini
- Olahraga
- 03 Agustus 2026 06:01 WIB
Dulux Raih Top Brand Award 2026, Perkuat Posisi sebagai Merek Cat Pilihan Masyarakat Indonesia
- Ekonomi
- 02 Agustus 2026 13:54 WIB
Di Balik Kesibukan Memimpin Batam, Amsakar Dapat Kejutan Hangat di Ulang Tahun ke-58
- Batam
- 02 Agustus 2026 11:15 WIB
Leo/Daniel Melaju ke Final Taipei Open 2026, Siap Tantang Ganda Malaysia
- Olahraga
- 02 Agustus 2026 10:34 WIB
Kemanunggalan TNI dan Rakyat, Pembangunan RTLH Milik Zaini dalam TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR Terus Dikebut
- Pelalawan
- 02 Agustus 2026 10:29 WIB

