Di Tembilahan dan Batang Tuaka, Polres Inhil Dan Warga Bangun Jembatan Untuk Masa Depan Anak Desa

TEMBILAHAN - Pagi di Kelurahan Pekan Arba terasa berbeda. Di Jalan Bersama RT 04 RW 05, suara tukul memukul besi bersahut-sahutan dengan tawa warga yang saling bercanda sambil mengangkat papan bagisting. Tidak ada yang merasa diperintah. Yang ada hanya rasa memiliki, karena jembatan 23 x 1,5 meter yang sedang dibangun itu adalah jembatan mereka sendiri.

Personel Polsek Tembilahan berdiri bersebelahan dengan aparat kelurahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga. Lumpur menempel di celana, keringat membasahi kemeja, tapi tidak ada yang mundur. Sejak pagi, mereka menyatukan tenaga untuk merangkai besi dan menyiapkan mal pengecoran. Progresnya kini sudah 18 persen, tapi yang lebih besar adalah rasa percaya yang ikut tumbuh.

Di seberang sana, di Dusun Panglima Desa Kuala Sebatu Kecamatan Batang Tuaka, cerita serupa terjadi. Di Parit Panglima, jembatan sepanjang 168 meter dan lebar 2 meter perlahan mengambil bentuk. Personel Polsek Batang Tuaka bahu-membahu dengan anggota Sat Brimob Polda Riau, pekerja, dan warga setempat. Mereka merakit besi pondasi, membuat papan mal, menuang cor, bahkan membuat jerambah kayu untuk akses sementara. Progresnya sudah 25 persen, dan setiap sentimeternya adalah langkah menuju hidup yang lebih mudah.

Kapolres Indragiri Hilir AKBP Farouk Oktora S.H., S.I.K. memandang pemandangan itu dengan tenang. Baginya, Jembatan Merah Putih Presisi bukan sekadar proyek infrastruktur. “Program ini bukan sekadar membangun jembatan fisik, tetapi juga membangun harapan dan memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat,” ujarnya. Ia ingin kehadiran Polri benar-benar terasa, terutama di tempat-tempat yang selama ini terasa jauh dari perhatian.

Bagi warga, jembatan ini adalah jawaban atas doa yang sering diucap diam-diam. Di musim hujan, jembatan kayu yang lapuk menjadi ancaman. Anak-anak harus dituntun erat-erat saat berangkat sekolah. Ibu-ibu membawa dagangan harus menahan napas setiap kali melintas. Kini, harapan itu mulai terlihat bentuknya dari tumpukan besi dan coran yang perlahan mengeras.

Kapolres menekankan bahwa pembangunan ini adalah kerja bersama. Polisi, pemerintah setempat, dan masyarakat berdiri di satu barisan. “Semangat gotong royong yang terlihat di lapangan menjadi kekuatan utama. Kami berharap pembangunan ini dapat segera selesai sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman, nyaman dan lancar,” katanya.

Lebih dari sekadar jalur lintas, jembatan ini diharapkan menjadi urat nadi baru bagi ekonomi desa. Hasil kebun bisa sampai pasar lebih cepat. Anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa takut terlambat. Warga yang sakit bisa dibawa ke puskesmas tanpa harus memutar jauh. Hal-hal kecil yang dulu terasa besar, kini mulai mendapat jalan keluar.

Di Tembilahan dan Batang Tuaka, gotong royong masih hidup. Ia tidak mati dalam laporan dan spanduk. Ia hidup di tangan-tangan yang lecet karena memegang besi, di punggung-punggung yang basah karena mengangkut semen, di senyum tua-tua kampung yang merasa didengar dan diperhitungkan.

Ketika jembatan ini selesai nanti, yang berdiri di atasnya bukan hanya beton dan besi. Yang berdiri adalah kepercayaan warga kepada negara, adalah bukti bahwa Polri bisa hadir bukan hanya dengan seragam dan sirene, tapi juga dengan cangkul, semen, dan hati yang mau turun ke tanah. Di atas Sungai yang sama, harapan itu kini sedang dibangun, satu ikatan besi pada satu waktu.(*)

Editor : Reza MF
Tag : # Inhil



Bagikan